Oh, ini adalah Indonesia!

Tidak perlu berpuitis, tidak butuh terlalu kritis. Selama anak kami masih bersekolah dan dapur kami masih mengepul dan kami masih mempunyai tuhan.
-----------------------------------------------
Zahra Sausan Pratiwi/19/A Sanguine Melancholic/DKV ITB 2010/Siberian Husky is cool.

twitter: @zahrasp
Recent Tweets @zahrasp
Who I Follow

Jadi kemaren gw habis nonton film ini karena penasaran, soalnya banyak yang bilang bagus. Gw juga termauk orang yang tertarik tentang film2 yg agak kontroversial apalagi kalo menyangkut isu agama kaya gini. Apalagi katanya ini film sampe sempet di larang oleh sekelompok ormas islam karena dianggap mendukung pluralisme agama atau apalah gw juga gak ngerti. Tapi yg pasti rasa penasaran ini bikin gw rela mengeluarkan uang 25ribu dan nonton midnight untuk pertama kalinya dalam hidup hahaha (cupu).

Oke jadi film ini bercerita tentang 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun  memiliki restauran masakan Cina yang tidak halal, Keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan soleha, Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan  dengan  Surya, pemuda yang belum pernah menikah. Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannya dengan masalah perbedaan pandangan, status, agama dan suku (eaa copas dari websitenya). Pokoknya intinya tentang gambaran kehidupan di Indonesia ketika perbedaan agama sering menjadi suatu permasalahan karena kurangnya sifat toleransi antar umatnya.

Nah, kalo gw boleh komen tentang nih film, tema yg diangkat sih udah oke, tapi.. sori nih menurut gw ceritanya masih ketebak dan pembahasan tentang masing2 agamanya kurang dalem. Apa ya, kita jadi kayak cuma dikasih tau kulit luarnya aja, padahal kalo bisa dibahas lebih mendalam bakal bisa lebih oke. Gw gatau apa karena agama yg disertakan di film ini terlalu banyak, atau karena ketutup sama konflik antar pemain yg gw rasa agak diluar konteks dari si tema film ini.

Kalo gw bandingin sama film dengan tema sejenis, contohnya “cin(T)a”, gw ngerasa lebih dapet konsep ketuhanan dan gambaran pluralisme agama di Indonesia dari film ini. Padahal agama yg diceritain cuma 2, Islam dan Kristen, ceritanya juga gak berat, tentang 2 anak muda yg jatuh cinta tp beda agama. Tapi di film ini gw bener2 ngerasain gimana si agama itu dijabarkan dengan segala macem masalahnya dan apa itu Tuhan di mata masing2 agama. Film “cin(T)a” juga menurut gw lebih netral dari segi pengambilan sudut pandang ceritanya. Kalo liat film “?” masih berasa liat film religi Islam, padahal tema yg diangkat ttg pluralisme agama. Dari segi dialog antar pemainnya juga, jauh lebih berbobot “cin(T)a”.

Punten pisan ini bukan maksud gw buat ngejelek2in film “?” dan mengagung-agungkan film “cin(T)a”. Tapi gw agak sayang aja, film dengan tema yg keren dan sutradara yg oke tapi ceritanya masih ‘sinetron’ banget, padahal potensi jumlah penontonya tinggi. Gw jadi berandai-andai, kalo film “cin(T)a” dibintangi oleh pemain2 terkenal ibukota kayak revalina atau siapalah, dan disutradarai oleh sutradara yg juga terkenal, apa akan booming juga seperti film “?”. Gak yakin juga sih gw, orang indonesia kan biasanya suka males kalo dikasih film yg agak mikir hehehe. No offense ya :p